Ada yang unik dalam prosesi Paskah di Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Prosesi yang dikenal dengan nama Semana Santa di tempat itu, amat lekat dengan kehadiran sosok Tuan Ma.

Siapakah Tuan Ma? Bukan, dia bukan seorang lelaki. Tuan Ma justru merupakan gabungan panggilan “tuan” dan “mama.


Tuan Ma adalah patung Bunda Maria yang begitu khas, dibalut dengan jubah kebiruan. Setiap tahun, saat Paskah, orang-orang, baik dari dalam mau pun luar Larantuka, berdatangan dan mengikuti pekan suci (semana=pekan , santa=suci) yang unik ini.


Sebelum Jumat Agung, beberapa tradisi dilakukan di kota itu. Pertama, prosesi laut, mengantarkan Patung Yesus wafat di dalam peti dari Kapela Tuan Meninu ke Pelabuhan Cure, tepat di depan Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana. Tuan Ana sendiri merupakan patung Tuhan Yesus. Setelah itu, patung Tuan Ma diarak. Inilah prosesi yang cukup ramai dan menarik banyak wisatawan di sana.

Patung Tuan Ma yang kini terlihat di Larantuka adalah patung replika. Pasalnya, patung asli Tuan Ma yang terbuat dari kayu amber telah menginjak usia berabad-abad.

Menurut sejarah, Patung Tuan Ma merupakan jelmaan sosok bidadari yang ditemukan seorang anak lelaki di tepian pantai, lima ratus tahun yang lalu. Patung tersebut diserahkan pada Raja Larantuka.

Maka, selain prosesi yang begitu menawan dan khidmat, agaknya sejarah Larantuka ini mampu menjadi magnet untuk menarik pada wisatawan pada kota “kembaran” (sister city) Ourem, Lisbon, Portugal ini. Tertarik menjadikannya salah satu destinasi wisata untuk liburanmu?

Foto:
Kompas, Kemendag, dan Liputan6