Langsung ke konten utama

Menjadi Tuan Rumah Sea Games 2019, Inilah 5 Hal Aneh yang Hanya ada di Filipina




Filipina menjadi negara tuan rumah SEA Games 2019. Fakta ini jadi kontroversial mengingat ada banyak masalah yang timbul. Seolah, Filipina tidak siap jadi tuan rumah.

Masalah-masalah dalam SEA Games 2019 itu antara lain, ballroom yang kurang layak. Beberapa atlet yang terabaikan. Juga, kamar hotel yang kurang.

Karena malu hal ini, ada banyak SEA Games 2019 volunteer dari Filipina yang sukarela untuk membantu agar perhelatan ini berjalan dengan lancar dan tidak ada lagi hal memalukan. Bahkan, ada beberapa pengusaha hotel yang rela hotelnya digunakan tempat menginap atlet.

Masih ada banyak hal dari Filipina yang di mata kita mungkin janggal. Penasaran? Lihat di sini ya:

Makan-Makanan Daur Ulang
Di Filipina, ada makanan yang bernama Pangpang, dan makanan ini berasal dari sisa-sisa konsumsi manusia di sampah. Ya, kamu tidak salah baca. 

Ini mungkin menjijikkan buatmu. Namun, buat masyarakat menengah ke bawah, tidak menjadi masalah. Diberi bumbu, dicampur, diolah kembali, rasanya dianggap lezat.


Hidup di Dekat Makam
Banyak di antara kamu yang mungkin takut dengan kuburan. Namun tidak dengan penduduk di Manila North Cemetery. Secara ilegal, mereka tinggal di dekat makam. 

Padahal, banyak kerangka dari makam yang dikeluarkan setelah melewati jangka waktu tertentu. Ini berlangsung karena semakin sempitnya lahan pemakaman dan pemakaman mereka harus diganti oleh mayat lain.

Setelah dikeluarkan, kerangka itu hanya dibakar saja. Dan ya, penduduk di sana tinggal berdekatan dengan kerangka-kerangka gosong itu..

Naik Lori Dorong di Rel
Saat melewati rel kereta, kamu pasti akan berhati-hati. Tentu saja, kamu tidak akan mau mengambil risiko tertabrak kereta. Hal itu berlaku ketika kamu naik mobil atau motor.

Namun, orang Filipina nekatnya tidak karuan. Banyak transportasi lori dorong yang dijalankan di atas rel. Harganya jauh lebih murah daripada kereta, dan karena tidak terjadwal, maka lebih fleksibel.

Pengemudinya mendorong lori, dan minggir saat kereta lewat. Namun, bisa saja tidak ada waktu untuk berhati-hati, bukan?

Masalah pada SEA Games 2019 memang adalah tentang ketidaksiapan Filipina. Namun, hal itu tentu bergantung pada budaya di negara tersebut. Birokrasi rumit, dan kesenjangan sosial membuat banyak hal tidak berjalan dengan teratur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ada Tuan Ma dalam Semana Santa Larantuka

Ada yang unik dalam prosesi Paskah di Larantuka, Nusa Tenggara Timur. Prosesi yang dikenal dengan nama Semana Santa di tempat itu, amat lekat dengan kehadiran sosok Tuan Ma.
Siapakah Tuan Ma? Bukan, dia bukan seorang lelaki. Tuan Ma justru merupakan gabungan panggilan “tuan” dan “mama.

Tuan Ma adalah patung Bunda Maria yang begitu khas, dibalut dengan jubah kebiruan. Setiap tahun, saat Paskah, orang-orang, baik dari dalam mau pun luar Larantuka, berdatangan dan mengikuti pekan suci (semana=pekan , santa=suci) yang unik ini.

Sebelum Jumat Agung, beberapa tradisi dilakukan di kota itu. Pertama, prosesi laut, mengantarkan Patung Yesus wafat di dalam peti dari Kapela Tuan Meninu ke Pelabuhan Cure, tepat di depan Kapela Tuan Ma dan Tuan Ana. Tuan Ana sendiri merupakan patung Tuhan Yesus. Setelah itu, patung Tuan Ma diarak. Inilah prosesi yang cukup ramai dan menarik banyak wisatawan di sana.
Patung Tuan Ma yang kini terlihat di Larantuka adalah patung replika. Pasalnya, patung asli Tuan Ma ya…

Café de Flore Paris, Tempat Para Filsuf Duduk dan Berpikir

Paris bukan sekadar tentang Menara Eiffel saja lho. Kalau kamu suka berkarya dan punya kesempatan pergi ke Paris, ada baiknya kam8u datang ke Café de Flore.

Kafe ini terletak di Saint German dr Pres dan di masa lalu menjadi tempat favorit bagi para filsuf, penulis, dan selebritas layaknya J.P Sartre, Albert Camus, hingga Brigitte Bardot untuk sekadar meneguk secangkir kopi pahit dan bersantap santai. Dari kegiatan itu, maka ide-ide menarik pun bermunculan di kepala mereka.

Agaknya istilah La Joie de Vivre alias seni menikmati hidup tak berlebihan bila disematkan pada aktivitas para seniman masa lalu di kafe ini. Di Café de Flore para 'parisienne' makan, bersantai, hingga menyesap anggur merah, tetapi toh kegiatan itu tidaklah membuang-buang waktu. Bukankah untuk dapat menghasilkan sesuatu yang berarti kita harus bahagia terlebih dahulu? #cafedeflore #paris #travel #menulis #filsafat

Museum Fatahillah

Museum yang memuat sejarah Jakarta.

A museum about Jakarta/Batavia history

Open hours: Selasa-Minggu, 08.00-17.00 WIB (Tuesday-Sunday, 8AM-5PM)
Address: Jalan Taman Fatahillah No.1, Kota Tua, Pinangsia, Tamansari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110